Sabtu, 25 Februari 2012

Wisata Ke Semarang yukkk....

  Gereja Blenduk, Semarang

gereja Blenduk, semarang 
Gereja Blenduk  atau GPIB Immanuel adalah gereje tertua di Jawa Tengah dan salah satu yang tertua di  Indonesia. Gereje Blenduk didirikan tahun 1753 ini merupakan salah satu icon dari Kawasan Kota Lama, Semarang yang secara fisik masih sangat utuh dan bahkan masih digunakan untuk kebaktian oleh Penganut Protestan di Semarang.  Dahulu namanya Koepelkerk, dan terletak di Heerenstraat, yang kemudian menjadi Kerk straat (jalan gereja),  sekarang menjadi Jalan Letjen Suprapto.
Pada awalnya, gereja ini berupa bangunan panggung Jawa yang tidak diketahui arsiteknya. Namun oleh   arsitek W. Westmaas dan H.P.A. de Wilde pada 1894-1895 dirubah secara dramatis dengan menambahkan menara pada bagian depan bangunan. Panggilan Gereja Blenduk diambil dari kubah yang terletak pada puncak gereja yang menonjol sehingga oleh orang  Jawa disebut dengan Mblenduk.
Hasilnya adalah Gereja Blenduk seperti sekarang dengan interiornya juga cantik, dihiasi lampu gantung kristal, bangku-bangku ala Belanda dan kursinya semua masih asli. Lalu ada orgen Barok nan indah, yang sayangnya sudah tidak bisa dipakai (rusak). Tangga dari besi cor (lebur) menuju ke orgen Barok itu buatan perusahaan Pletterij, Den Haag. Salah satu yang menarik bagi yang tidak bisa masuk ke Gereja Blenduk adalah jam pada menara kembarnya, yang masih menggunakan angka IIII menggantikan angka IV.
Daerah sekitar Gereja Blenduk dinamakan dengan Outstadt atau Little Netherland mencakup setiap daerah di mana gedung-gedung yang dibangun sejak zaman Belanda, hanya yang masih tersisa cukup banyak yang di daerah sekitar Gereja Blenduk.  Beberapa gedung Kuno sekitar Gereja Blenduk misalnya Gedung Jiwasraya, gedung Marba, Peek House dan kalau berkunjung ke Gereja Blenduk, jangan lupa untuk mampir ke Sate 29 di depan gereja Blenduk yang terkenal dengan sate Buntel dan gule sumsumnya.. Dijamin Maknyus…


Lawang Sewu

2. Lawang Sewu Semarang, Gedung Seribu Pintu dan Seribu Hantu.

Lawang Sewu merupakan sebuah bangunan kuno peninggalan jaman belanda yang dibangun pada 1904. Semula gedung ini untuk kantor pusat perusahaan kereta api (trem) penjajah Belanda atau Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij (NIS). Gedung tiga lantai bergaya art deco (1850-1940) ini karya arsitek Belanda ternama, Prof Jacob F Klinkhamer dan BJ Queendag. Lawang Sewu terletak di sisi timur Tugu Muda Semarang, atau di sudut jalan Pandanaran dan jalan Pemuda. Disebut Lawang Sewu (Seribu Pintu), ini dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Kenyataannya, pintu yang ada tidak sampai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu.
Foto Gallery Lawang Sewu Semarang:

Bangunan utama Lawang Sewu berupa tiga lantai bangunan yang memiliki dua sayap membentang ke bagian kanan dan kiri bagian. Jika pengunjung memasukkan bangunan utama, mereka akan menemukan tangga besar ke lantai dua. Di antara tangga ada kaca besar menunjukkan gambar dua wanita muda Belanda yang terbuat dari gelas. Semua struktur bangunan, pintu dan jendela mengadaptasi gaya arsitektur Belanda. Dengan segala keeksotisan dan keindahannya Lawang Sewu ini merupakan salah satu tempat yang indah untuk Pre Wedding.
Lawang Sewu Pasca Pemugaran:
Setelah cukup lama lawang sewu seperti tak terurus, akhirnya Lawang Sewu dilakukan pemugaran yang memakan waktu cukup lama, akhirnya selesai pada akhir Juni 2011 dan kembali dibuka untuk umum setelah pada tanggal 5 Juli 2011 diresmikan oleh Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono dan dilanjutkan dengan event Pameran Kriya Unggulan Nusantara yang menampilkan produk produk tradisional dari seluruh Nusantara. Berikut foto foto Lawang Sewu pasca pemugaran:
Lawang Sewu Pasca Restorasi
sisi belakang lawang sewu

















halaman depan lawang sewu                                                              


3. Taman Margasatwa Bonbin Semarang

burung pelikan
Kebun Binatang Semarang atau lebih dikenal dengan nama Bonbin Semarang pertama berada di tempat yang sekarang menjadi kawasan Taman Budaya Raden Saleh dan Wonderia. Lalu pada tahun 1985 Bonbin Semarang direlokasi ke daerah Tinjomoyo. Dan pada tanggal 28 Februari 2007 Bonbin Semarang pindah lagi menempati areal baru di daerah Mangkang, tepatnya di Jl. Walisongo KM 16, seberang Terminal Mangkang. Harga tiket tanda masuk cukup terjangkau, pada Minggu / hari besar sebesar Rp 7.500,-. Bonbin Semarang ini berada di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Kota Semarang. Bonbin ini merupakan Taman Margasatwa, tempat rekreasi, konservasi dan pendidikan.
Bonbin Semarang ini memiliki areal seluas 9 hektar. “Ada satwa yang ditempatkan di kandang, ada juga yang di ruang terbuka sesuai habitatnya. Fasilitas yang dimiliki Bonbin Mangkang berupa : Naik gajah, kereta mini, becak air dan perahu untuk menyusuri danau buatan sambil ditemani burung pelikan yang berenang dengan bebas di danau tersebut. Juga dalam proses pembangunan yaitu arena mainan, museum pesawat, water boom, dan kolam keceh.
Bila lelah berkeliling melihat koleksi binatang, anak-anak juga bisa mencoba fasilitas Jaring Laba-Laba, Flying Fox dan lain sebagainya. Bonbin Mangkang paling ramai dikunjungi pada hari Minggu atau hari libur. Pada akhir pekan, jumlah pengunjung bisa mencapai 1000 orang per hari. Sedangkan hari biasa pada kisaran 100 orang per hari.
Berikut sebagian dari koleksi satwa Bonbin Semarang:
Burung Cangak Merah
Ardea Purpurea
Nama Inggris: Purple Heron
Suku: Ardeidea
Deskripsi: Berukuran besar (80cm), berwarna abu-abu, coklat berangan dan hitam. Topi hitam dengan jambul menjuntai. Terdapat strip hitam menurun sepanjang leher yang merah karat khas. Punggung dan penutup sayap abu abu, bulu terbang hitam. Bulu lainnya coklat kemerahan.
Suara: “Uak” yang keras.
Penyebaran Global: Afrika, Erasia sampai Filipina, Sulawesi, Sunda Besar, dan Nusa Tenggara.
Penyebaran lokal dan status: Tersebar di lahan basah di seluruh sunda besar, khususnya pada habitat air tawar dataran rendah, kadang kadang juga ditemukan di bukit sampai ketinggian 1.500 m.
Kebiasaan: Sering mengunjungi hutan mangrove, sawah, danau dan aliran air. Tidak terbatas di daerah pesisir seperti cangak abu. Suka mengendap endap sendirian di sepanjang perairan dangkal yang penuh gulma, dengan kepala merendah ke bawah dan ke samping untuk menangkap air dan makanan lain. Terbang dengan kepakan sayap berat perlahan. Bersarang dalam koloni besar.
  • Pelikan
Pelecanus Cospicillatus
Klasifikasi: Ordo Pelecaniformes
Familia: Pelecanidae
Deskripsi: Burung air yang sangat besar dengan berat antara 4 hingga 11 Kg dengan rentangan sayap 2.75m. Burung pelikan ini berwarna putih atau sebagian besar putih. Sayap dan ekor sebagian berwarna hitam. Selama masa mengeram warna kulit yang sulah, paruh, kantung, tengorok, dan kaki menjadi lebih jelas. Burung pelikan mempunyai ciri ciri khusus yaitu antara lain paruh besar dan lurus, dilengkapi dengan kait pada ujungnya dan kantong yang besar. Perbedaan morfologi antara jantan dan betina kurang jelas, sehingga cukup sulit membedakan antara pelikan jantan dan pelikan betina.
Habitat: Pelikan suka hidup berkelompok dan berenang di danau, rawa, sungai, dan lautan. Tersebar di Australia, Irian kadang kadang sampai indonesia bagian barat.
Komodo
Veranus Komodoensis
Nama Inggris: Komodo Dragon
Deskripsi: Kadal raksasa ini mempunyai bentuk tubuh yang tidak berbeda dengan kadal yang kita kenal. Tubuhnya dapat tumbuh hingga ukuran panjang 3m, lebar perut hingga 0,5m dengan berat 130Kg. Seluruh tubuh tertutup kulit tebal berwarna hitam kecoklatan dan apabila kena sinar akan berwarna kecoklatan.
  • Rusa Tutul
Axis Axis
Nama inggris: Axis Deer
Klasifikasi: Ordo Artiodactyla, Familia Cervidae
Deskripsi: Rusa tutul berukuran lebih kecil dari pada ukuran tubuh rusa jawa dan nampak langsing. Panjang tubuh hingga 91cm, panjang ekor 20 – 30 cm. dengan berat kurang dari 45Kg. yang jantan mempunyai ronggah tiga. Rusa tutul hidup berkelompok, di dalam kelompoknya terdapat beberapa rusa jantan, rusa betina dan anak anak, kelompok rusa dipimpin oleh rusa betina yang paling tua.
Rusa Timor
Cervus Timorensis
Nama Inggris: Javan Deer
Klasifikasi: Ordo Artiodactyla, Familia cervidae
Deskripsi: Rusa ini berukuran sedang yaitu panjang tubuh 98 sampai 111 cm dengan berat badan 45 sampai 50 Kg. Rusa jantan mempunyai ronggah bercabang tiga. Satwa ini tubuhnya tertutup mantel rambut berwarna coklat kemerahan, dibagian tertentu seperti leher, kaki bawah dan pantat berwarna agak cerah.
Gajah Sumatra
Elephas Maximas Sumatranus
Klasifikasi: Ordo Proboscidae, familia Elephantidae
Deskripsi: Gajah Sumatra adalah spesies paling kecil dari gajah asia, dibandingkan gajah asia lainnya dari India yang lebih besar. Warna kulit gajah Sumatra kelabu sampai hitam kelam. Perilaku gajah ini hidup berkelompok antara 10 sampai 30 ekor yang dipimpin oleh gajah betina yang paling tua. Hidup berpindah pindah untuk mendapatkan makanan.
  • Merak Hijau
Pavo Muticus
Nama Inggris: Green Peafowl
Deskripsi: Khas, berukuran sangat besar (jantan 210 cm, betina 120 cm) dengan penutup ekor sangat panjang (jantan saja) dan jambul tegak di atas kepala. Jantan: mantel, leher, dan dada hijau mengkilap, ekor kipas terdiri dari bulu mengkilap dengan bintik berbentuk mata. Betina: warna bulu kurang bagus, keputih putihan pada bagian bawahnya. tidak mempunyai ekor panjang. Iris dan paruh coklat, kaki hitam keabu-abuan.






4.Maerokoco, Taman Mini Jateng Indah

Pernah berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII)? Kalaupun belum, anda pasti pernah mendengar namanya. Tempat ini digunakan untuk mengenalkan berbagai rumah dan pakaian di seluruh Indonesia. Karena memang di sinilah seluruh rumah adat di Indonesia “berkumpul” dalam satu tempat.
Semarang pun punya tempat semacam itu. Namanya Puri Maerokoco. Nama ini diambil dari salah satu bagian epos Mahabarata yang  menceritakan tentang keinginan salah seorang dewi memiliki seribu bangunan hanya dalam waktu satu malam.
“Taman Mini” maerokoco  menjadi salah satu bagian dari PRPP Jawa Tengah yang diresmikan pada tahun 1980an oleh Gubernur Ismail. Konon, Puri Mearokoco dibangun untuk memberikan pengetahuan  kebudayaan bagi masyarakat dengan membuat tempat ini mirip dengan keadaam yang sebenarnya.
Fungsi tersebut tentu saja di luar fungsinya  sebagai sarana promosi potensi wilayah Jawa Tengah. Terdiri dari 35 anjungan, Puri merokoco berusaha menampilkan “wajah” 35 kabupaten/kota di seluruh Jawa Tengah.
Namun sayang, kondisi obyek wisata ini mulai memprihatinkan. Selain sepi, sejumlah anjungan tampak tak terawat. Padahal jika mau digarap dengan serius, Puri Maerokoco dupastikan memiliki manfaat besar bagi warga dan pemerintah. Setidak-tidaknya bisa dijadikan sebagai sarana promosi bagi 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Menurut penuturan salah seorang penjaga anjungan,  saat ini anggaran yang diberikan dari masing-masing pemerintah daerah sebagai pemilik anjungan sangat minim. Meskipun para  penjaga anjungan telah  banyak yang berstatus pegawai negeri sipil. Akibatnya, para penjaga mengaku tidak dapat berbuat lebih dan hanya bisa berharap pemerintah daerah sadar akan potensi telah mendirikan anjungan di Puri Maerokoco.
Sebuah potensi sangat besar terlihat,  jika pemerintah daerah mau memberikan perhatian lebih kepada tempat ini. Bagaimana tidak,selain terletak tidak jauh dari pusat kota Semarang yang notabene Ibukota Provinsi Jawa Tengah .Terdapat pula potensi dari pelajar-pelajar daerah yang melanjutkan studi di berbagai perguruan tinggi ataupun sekolah menengah yang ada di Semarang.
Dengan menumbuhkan rasa “nasionalisme lokal” pada pelajar daerah, mengenai potensi di daerahnya kepada teman-temannya melalui anjungan yang ada . Kita ambil contoh, jika terdapat 1000 mahasiswa yang berasal dari Demak dan setiap pelajar bercerita kepada 10 temannya setelah mengunjungi anjungan Kabupaten Demak,  maka terdapat paling tidak 10000 orang berpotensi berkunjung ke Demak.
Dengan jelas akan terlihat sejumlah nominal yang  akan didapat dari retribusi ataupun konsumsi yang dilakukan jika mengunjungi Kabupaten Demak dapat dijadikan sebagai salah satu sumber  pendapatan asli daerah untuk membangun daerah.
Bukan suatu keniscayaan perputaran uang yang didapa dari sebuah miniatur akan dapat membangun sebuah kota. Anggaran yang digunakan untuk “memoles” miniatur tidaklah seberapa dari sekian milyar APBD yang ada, namun akan mendatangkan sumber pendapatan bagi sebuah kota.
  • Anjungan KUDUS
                                                                                           
Anjungan JEPARA